Kamis, 06 Oktober 2011

Pengetahuan : Korea Selatan

대한민국
大韓民國
Daehan Minguk


Motto: 널리 인간세상을 이롭게 하라 (홍익인간)
Bawalah keuntungan kepada seluruh rakyat
Lagu kebangsaan: Aegukga (애국가)
Lagu Patriotik
LocationSouthKorea.png
Ibu kota Seoul
37°35′ LU 127°0′ BT
Kota terbesar Seoul
Bahasa resmi Korea
Pemerintahan Republik
 -  Presiden Lee Myung-bak
 -  Perdana Menteri Chung Un-chan
Pendirian
 -  Pembinaan Gojoseon 2333 BC[1] 
 -  Deklarasi Republik 1 Maret 1919 
 -  Pemerintahan Provinsial 13 April 1919 
 -  Pembebasan 15 Agustus 1945 
 -  Konstitusi 17 Juli 1948 
 -  Proklamasi 15 Agustus 1948 
Luas
 -  Total 100.032 km2 (108)
 -  Air (%) 0.3%
Penduduk
 -  Perkiraan 2008 48,379,392 (26)
 -  Sensus - - 
 -  Kepadatan 493/km2 (21)
PDB (KKB) Perkiraan 2008
 -  Total 947 miliar (15)
 -  Per kapita 19.504 (36)
Mata uang Won Korea Selatan (KRW)
Zona waktu (UTC+9)
 -  Musim panas (DST)  (UTC+9)
Ranah Internet .kr
Kode telepon 82

Republik Korea (bahasa Korea: Daehan Minguk (Hangul: 대한민국; Hanja: 大韓民國); bahasa Inggris: Republic of Korea/ROK) biasanya dikenal sebagai Korea Selatan, adalah sebuah negara di Asia Timur yang meliputi bagian selatan Semenanjung Korea. Di sebelah utara, Republik Korea berbataskan Korea Utara, di mana keduanya bersatu sebagai sebuah negara hingga tahun 1948. Laut Kuning di sebelah barat, Jepang berada di seberang Laut Jepang (disebut "Laut Timur" oleh orang-orang Korea) dan Selat Korea berada di bagian tenggara.[2] Negara ini dikenal dengan nama Hanguk (한국; 韓國).[3] oleh penduduk Korea Selatan dan disebut Namchosŏn (남조선; 南朝鮮; "Chosŏn Selatan") di Korea Utara. Ibu kota Korea Selatan adalah Seoul (서울).

Penemuan arkeologis menunjukkan bahwa Semenanjung Korea telah didiami sejak Masa Paleolitik Awal.[4][5] Sejarah Korea dimulai dari pembentukan Gojoseon pada 2333 SM. oleh Dan-gun. Setelah unifikasi Tiga Kerajaan Korea dibawah Silla pada 668 M, Korea menjadi satu dibawah Dinasti Goryeo dan Dinasti Joseon hingga akhir Kekaisaran Han Raya pada 1910 karena dianeksasi oleh Jepang. Setelah liberalisasi dan pendudukan oleh Uni Soviet dan Amerika Serikat pada akhir Perang Dunia II, Wilayah Korea akhirnya dibagi menjadi Korea Utara dan Korea Selatan.


Sejarah



Korea dimulai dengan pembentukan Joseon (atau lebih sering disebut dengan Gojoseon untuk menhindari persamaan nama dengan Dinasti Joseon pada abad ke 14) pada 2333 SM oleh Dangun.[6] Gojoseon berkembang hingga bagian utara Korea dan Manchuria. Setelah beberapa kali berperang dengan Dinasti Han Gojoseon mulai berdisintegrasi.


Peta Tiga Kerajaan Korea pada akhir abad ke-5

Dinasti Buyeo, Okjeo, Dongye dan konfederasi Samhan menduduki Semenanjung Korea dan Manchuria Selatan.[7] Goguryeo, Baekje, and Silla berkembang mengatur Tanjung Korea yang dikenal dengan Tiga Kerajaan Korea. Untuk pertama kalinya Semenanjung Korea berhasil disatukan oleh Silla pada tahun 676 menjadi Silla Bersatu. Para pelarian Goguryeo yang selamat mendirikan sebuah kerajaan lain di sisi timur laut semenanjung Korea, yakni Balhae. Hubungan antara Korea dan China berjalan dengan baik pada masa Dinasti Silla. Kerajaan ini runtuh akibat adanya kerusuhan dan konflik yang terjadi di dalam negeri pada abad ke 10, Kerajaan Silla jatuh dan menyerah kepada dinasti Goryeo pada tahun 935.[8]

Silla Bersatu akhirnya runtuh di akhir abad ke-9, yang juga mengakhiri masa kekuasaan Tiga Kerajaan. Kerajaan yang baru, Goryeo, mulai mendominasi Semenanjung Korea.[8] Kerajaan Balhae runtuh tahun 926 karena serangan bangsa Khitan[9] dan sebagian besar penduduk serta pemimpinnya, Dae Gwang hyun, mengungsi ke Dinasti Goryeo. Tahun 993 sampai 1019 suku Khitan dari Dinasti Liao meyerbu Goryeo, tapi berhasil dipukul mundur. Kemudian di tahun 1238, Goryeo kembali diserbu pasukan Mongol dan setelah mengalami perang hampir 30 tahun, dua pihak akhirnya melakukan perjanjian damai.[10]


Patung Raja Sejong pencipta abjad Hangeul

Pada tahun 1392, Taejo dari Joseon mendirikan Dinasti Joseon setelah menumbangkan Goryeo. Raja Sejong (1418-1450) mengumumkan penciptaan abjad Hangeul.[11] Antara 1592-1598, dalam Perang Imjin, Jepang menginvasi Semenanjung Korea, tapi dapat dipatahkan oleh prajurit pimpinan Admiral Yi Sun-shin.[12] Lalu pada tahun 1620-an sampai 1630-an Dinasti Joseon kembali menderita serangan dari (Dinasti Qing).

Pada awal tahun 1870-an, Jepang kembali berusaha merebut Korea yang berada dalam pengaruh Cina. Pada tahun 1895, Maharani Myeongseong dibunuh oleh mata-mata Jepang.[13] Pada tahun 1905, Jepang memaksa Korea untuk menandatangani Perjanjian Eulsa yang menjadikan Korea sebagai protektorat Jepang dan pada 1910 Jepang mulai menjajah Korea.[14] Perjuangan rakyat Korea terhadap penjajahan Jepang dimanifestasikan dalam Pergerakan 1 Maret dengan tanpa kekerasan. Pergerakan kemerdekaan Korea yang dilakukan Pemerintahan Provisional Republik Korea lebih banyak aktif di luar Korea seperti di Manchuria, Cina dan Siberia.

Dengan menyerahnya Jepang di tahun 1945,[15] PBB membuat rencana administrasi bersama Uni Soviet dan Amerika Serikat, namun rencana tersebut tidak terlaksana. Pada tahun 1948, pemerintahan baru terbentuk: Korea demokratik (Korea Selatan) dan komunis (Korea Utara) yang dibagi oleh garis lintang 38 derajat. Pada 1950, Korea Utara menginvasi Korea Selatan yang dikenal dengan nama Perang Korea.[16]

Pemerintahan



Gedung Dewan Perwakilan Korea


Korea Selatan adalah negara republik. Seperti pada negara-negara demokrasi lainnya,Korea Selatan membagi pemerintahannya dalam tiga bagian: eksekutif, yudikatif dan legislatif. Lembaga eksekutif dipegang oleh presiden yang dipilih berdasarkan hasil pemilu untuk masa jabatan 5 tahun dan dibantu oleh Perdana Menteri yang ditunjuk oleh presiden dengan persetujuan dewan perwakilan.Presiden bertindak sebagai kepala negara dan Perdana Menteri sebagai kepala pemerintahan.

Lembaga legislatif dipegang oleh dewan perwakilan yang menjabat selama 4 tahun.Pelaksanaan sidang paripurna diadakan setiap setahun sekali atau berdasarkan permintaan presiden. Sidang ini terbuka untuk umum namun dapat berlangsung tertutup.

Pengadilan konstitusional menjadi lembaga tertinggi pemegang kekuasaan yudikatif yang terdiri atas 9 hakim yang direkomendasikan oleh presiden dan dewan perwakilan. Hakim akan menjabat selama enam tahun dan usianya tidak boleh melebihi 65 tahun pada saat terpilih.

Pembagian Administratif



Korea Selatan terdiri dari 1 kota khusus (Teukbyeolsi; 특별시; 特別市), 6 Kota Metropolitan (Gwangyeoksi; 광역시; 廣域市), dan 9 Provinsi (do; 도; 道). Nama-nama di bawah ini diberikan dalam bahasa Inggris, Alihaksara yang Disempurnakan, Hangul, dan Hanja.

Kota Istimewa/Khusus


  • Kota Istimewa/Khusus Seoul (Seoul Teukbyeolsi; 서울특별시; --特別市)


Pembagian administratif Korea Selatan.

Kota Metropolitan


  • Kota Metropolitan Busan (Busan Gwangyeoksi; 부산광역시; 釜山廣域市)
  • Kota Metropolitan Daegu (Daegu Gwangyeoksi; 대구광역시; 大邱廣域市)
  • Kota Metropolitan Incheon (Incheon Gwangyeoksi; 인천광역시; 仁川廣域市)
  • Kota Metropolitan Gwangju (Gwangju Gwangyeoksi; 광주광역시; 光州廣域市)
  • Kota Metropolitan Daejeon (Daejeon Gwangyeoksi; 대전광역시; 大田廣域市)
  • Kota Metropolitan Ulsan (Ulsan Gwangyeoksi; 울산광역시; 蔚山廣域市)

Provinsi


  • Provinsi Gyeonggi (Gyeonggi-do; 경기도; 京畿道)
  • Provinsi Gangwon (Gangwon-do; 강원도; 江原道)
  • Provinsi Chungcheong Utara (Chungcheongbuk-do; 충청북도; 忠淸北道)
  • Provinsi Chungcheong Selatan (Chungcheongnam-do; 충청남도; 忠淸南道)
  • Provinsi Jeolla Utara (Jeollabuk-do; 전라 북도; 全羅北道)
  • Provinsi Jeolla Selatan (Jeollanam-do; 전라 남도; 全羅南道)
  • Provinsi Gyeongsang Utara (Gyeongsangbuk-do; 경상 북도; 慶尙北道)
  • Provinsi Gyeongsang Selatan (Gyeongsangnam-do; 경상 남도; 慶尙南道)
  • Provinsi Jeju (Jeju-do; 제주도; 濟州道)

Geografi dan Iklim



Topografi Korea Selatan


Luas Korea Selatan adalah 99.274 km2,[22] lebih kecil dibanding Korea Utara. Keadaan topografinya sebagian besar berbukit dan tidak rata.[23] Pegunungan di wilayah timur umumnya menjadi hulu sungai-sungai besar, seperti sungai Han dan sungai Naktong. Sementara wilayah barat merupakan bagian rendah yang terdiri dari daratan pantai yang berlumpur. Di wilayah barat dan selatan yang terdapat banyak teluk terdapat banyak pelabuhan yang baik seperti Incheon, Yeosu, Gimhae, dan Busan.[24]

Korea Selatan memiliki sekitar 3.000 pulau,[25] sebagian besar adalah pulau kecil dan tidak berpenghuni. Pulau - pulau ini tersebar dari barat hingga selatan Korea Selatan. Pulau Jeju yang terletak sekitar 100 kilometer di bagian selatan Korea Selatan adalah pulau terbesar dengan luas area 1.845 km2. Gunung Halla adalah gunung berapi tertinggi sekaligus sebagai titik tertinggi di Korea Selatan yang terletak di Pulau Jeju.[26] Pulau yang terletak di wilayah paling timur Korea Selatan adalah Uileungdo dan Batu Liancourt sementara Marado dan Batu Socotra merupakan pulau yang berada paling selatan di wilayah Korea Selatan.[24]

Iklim Korea selatan dipengaruhi oleh iklim dari daratan Asia dan memiliki 4 musim. Musim panas di Korea selatan yang dimulai bulan Juni bisa mencapai temperatur 40 derajat celcius (di kota Daegu), yang ditandai dengan datangnya musim hujan yang jatuh pada akhir bulan Juli sampai Agustus di seluruh bagian semenanjung. Sementara temperatur musim dinginnya rata-rata dapat jatuh pada suhu sejauh minus 10 derajat celcius di beberapa propinsi. Korea Selatan juga rentan akan serangan angin taifun yang menerjang selama bulan musim panas dan musim gugur. Beberapa tahun belakangan ini Korea selatan juga sering dilanda badai pasir kuning yang dibawa dari gurun gobi di Cina yang juga melanda Jepang dan sejauh Amerika Serikat.

Ekonomi



Korea Selatan memiliki ekonomi pasar dan menempat urutan kelima belas berdasarkan PDB. Sebagai salah satu dari empat Macan Asia Timur,[27] Korea Selatan telah mencapai rekor ekspor impor yang memukau, nilai ekspornya merupakan terbesar kedelapan di dunia.[28] Sementara, nilai impornya terbesar kesebelas.[29]

Kesuksesan ekonomi Korea Selatan dicapai pada akhir 1980-an ketika PDB berkembang dari rata - rata 8% per tahun (US$2,7 milyar) pada tahun 1962[30] menjadi US$230 milyar pada 1989[31] Jumlah ini kira - kira 20 kali lipat dari Korea Utara dan sama dengan ekonomi - ekonomi menengah di Uni Eropa. Kemajuan ekonomi ini dikenal dengan nama Keajaiban di Sungai Han.[32]

Krisis Finansial Asia 1997 membuka kelemahan dari model pengembangan Korea Selatan, termasuk rasio utang/persamaan yang besar, pinjaman luar yang besar, dan sektor finansial yang tidak disiplin. Pertumbuhan jatuh sekitar 6,6% pada 1998, kemudian pulih dengan cepat ke 10,8% pada 1999 dan 9,2% pada 2000. Pertumbuhan kembali jatuh ke 3,3% pada 2001 karena perlambatan ekonomi dunia, ekspor yang menurun, dan persepsi bahwa pembaharuan finansial dan perusahaan yang dibutuhkan tidak bertumbuh. Dipimpin oleh industri dan konstruksi, ekonomi Korea Selatan mulai bangkit pada 2002 dengan pertumbuhan sebesar 5,8%. Jumlah penduduk dibawah garis kemiskinan sebesar 15% pada tahun 2003.[33] Indeks gini menunjukkan perbaikan, dari angka 35.8 menjadi 31.3 pada tahun 2007.[33] Nilai investasinya sebesar 29.3% dari PDB dan menempati urutan ke dua puluh satu.[33]

Pada 2005, di samping merupakan pemimpin dalam akses internet kecepatan-tinggi,[34] semikonduktor memori, monitor layar-datar dan telepon genggam, Korea Selatan berada dalam peringkat pertama dalam pembuatan kapal, ketiga dalam produksi ban, keempat dalam serat sintetis, kelima dalam otomotif dan keenam dalam baja. Negara ini juga menempati peringkat ke tiga puluh enam dalam hal tingkat pengangguran, kesembilan belas dalam Indeks Kemudahan Berbisnis[35] dan ketiga puluh satu dari 179 negara dalam Indeks Kebebasan Ekonomi berdasarkan data tahun 2010.[36]


Korea Selatan yang dianggap tidak stabil pada 1960-an, saat ini telah berubah menjadi negara industri utama dalam kurang dari 40 tahun.

Ekspor bergerak dalam bidang semi konduktor, peralatan telekomunikasi nirkabel, kendaraan bermotor, komputer, baja, kapal dan petrokimia dengan mitra ekspor utama RRC 21.5%, Amerika Serikat 10.9%, Jepang 6.6% dan Hong Kong 4.6% [33]. Korea Selatan mengimpor plastik, elektronik dan peralatannya, minyak, baja dan bahan kimia organik dari RRC 17.7%, Jepang 14%, Amerika Serikat 8.9%, Arab Saudi 7.8%, Uni Emirat Arab 4.4% dan Australia 4.1%.[33]

Jumlah tenaga kerja berada di peringkat kedua puluh lima dunia [33]


Perusahaan Samsung Electronics adalah perusahaan elektronik terbesar di dunia[37]

Ekonomi Korea Selatan dipimpin oleh konglomerat besar yang dikenal dengan sebutan chaebol. Beberapa chaebol yang terbesar antara lain: Samsung Electronics, POSCO, Hyundai Motor Company, KB Financial Group, Korea Electric Company, Samsung Life Insurance, Shinhan Financial Group, LG Electronics, Hyundai dan LG Chem.[38][39]

Transportasi




Bandar Udara Internasional Incheon, bandar udara terbaik di dunia selama 4 tahun berturut turut.[40][41]

Transportasi di Korea Selatan terdiri dari kereta api, bus, kapal ferry dan penerbangan udara. Jalur kereta api terdiri dari subway yang berada di enam kota: Seoul, Busan, Daegu, Gwangju, Daejon dan Incheon. Operator kereta api Korail menyediakan pelayanan kereta api hampir keseluruh kota besar di Korea Selatan.

Korea Selatan memiliki 103 bandar udara dengan Bandar Udara Internasional Incheon sebagai bandar terbesar. Bandar udara Incheon pernah dinobatkan sebagai bandar udara terbaik di dunia oleh Airport Council International.[40][41] Bandar udara internasional lainnya yang terdapat di Korea Selatan antara lain berada di Gimpo, Busan dan Jeju.

Maskapai penerbangan nasional Korean Air dibentuk pada tahun 1962, melayani 21.640.000 penumpang dengan 12.490.000 penumpang internasional.[42] Asiana Airlines, dibentuk pada tahun 1988, melayani penerbangan domestik dan internasional. Penerbangan lain seperti Hansung Airlines dan Jeju Air melayani penerbangan domestik dengan harga yang lebih murah.

Ilmu Pengetahuan & Teknologi


South Korean android EveR3 in a traditional hanbok
Android EveR3 dalam baju hanbok

Perkembangan IPTEK di Korea Selatan awalnya tidak berkembang dengan baik karena masalah pembagian korea dan Perang Korea yang terjadi setelah masa kemerdekaan. Kemajuan IPTEK mulai dirasakan pada tahun 1960an ketika pemerintahan diktator Park Chung-hee dimana ekonomi Korea Selatan melaju pesat.

Robotik telah menjadi riset dan pengembangan yang utama di Korea Selatan sejak 2003.[43] Pada 2009, pemerintah mengumumkan rencana untuk membangun taman tematik robot di Incheon dan Masan dengan dana pemerintah maupun swasta.[44] Pada 2005, Institut Ilmu Pengetahuan dan teknologi Korea Selatan mengembangkan robot humanoid kedua di dunia yang mampu berjalan. Institut Teknologi Industri Korea juga berhasil mengembangkan android Korea yang pertama, EveR-1 pada Mei 2006.[45]

Hubungan luar negeri & Militer




Korea Selatan melakukan hubungan diplomatik lebih dari 188 negara. Korea Selatan juga tergabung dalam PBB sejak tahun 1991,[46] bersamaan dengan bergabungnya Korea Utara. Pada 1 Januari 2007, Menteri Luar Negeri Korea Selatan pada saat itu, Ban Ki-moon resmi menjadi Sekretaris Jenderal PBB menggantikan Kofi Annan. Selain itu, Korea Selatan juga menjadi mitra stratergis ASEAN sebagai anggota Asean Plus 3 dan aktif dalam forum ekonomi dunia lainnya seperti G-20, APEC dan Konferensi Tingkat Tinggi Asia Timur.

Korea Selatan menjalin hubungan erat dengan RRC, terutama sejak Korea Selatan memutuskan hubungan dengan Republik Cina.[47] Uni Eropa menjadi mitra penting perdagangan Korea Selatan dan menjadi tujuan utama ekspor Korea Selatan. [48] Hubungan diplomatik dengan Jepang tidak pernah dicatatkan secara formal sejak Perang Dunia II, namun Traktat Hubungan Dasar antara Jepang dan Korea Selatan yang ditandatangani tahun 1965 menjadi dasar utama hubungan kedua negara. Korea Selatan dan Jepang mengalami persengketaan mengenai masalah Batu Liancourt,[49] namun secara administratif, kepulauan ini dimiliki oleh Korea Selatan karena Pengawal Pantai Korea Selatan bermarkas di pulau ini.[50]

Invasi serta ketegangan dengan Korea Utara telah mendorong Korea Selatan mengalokasikan 2.6% dari PDB dan 15% dari pengeluaran pemerintah untuk pembiayaan militer serta mewajibkan seluruh pria untuk mengikuti wajib militer. Jumlah tentara aktif Korea Selatan menempati urutan keenam terbesar di dunia,[51] urutan kedua dalam jumlah tentara cadangan dan sebelas besar dalam urusan anggaran pertahanan.

Pasukan militer Korea Selatan terdiri atas Angkatan Darat (ROKA), Angkatan Laut (ROKN) dan Korps marinir (ROKMC).[52] Angkatan bersenjata ini kebanyakan berkonsentrasi di daerah perbatasan Zona Demiliterisasi Korea. Seluruh pria Korea Selatan diwajibkan secara konstitusi untuk mengikuti wajib militer, umumnya untuk masa dua tahun.

Pendidikan



Kelas dengan U-learning. Para siswa belajar dengan menggunakan e-book


Pendidikan di Korea Selatan dibagi dalam beberapa bagian seperti pada umumnya di negara lain: kelompok bermain, sekolah dasar , pendidikan menengah, dan sekolah tinggi/universitas. Berdasarkan hasil penelitian 2006 tentang Program Penilaian Pelajar Internasional dari OECD, Korea Selatan menempati urutan pertama dalam pemecahan masalah, urutan ketiga dalam matematika dan urutan kesebelas pada bidang sains.[53] Teknologi pada pendidikan di Korea juga dikembangkan hingga keseluruh daratan Korea dengan membuat jaringan akses internet berkecepatan tinggi di sekolah dasar dan lanjutan.[54] Pemerintah Korea melalui Kementerian Pendidikan juga memberikan beasiswa bagi siswa-siswi yang berasal dari luar Korea hingga mencapai 100.000 siswa per tahun.[55]

Budaya



Korea Selatan dan Korea Utara memiliki kebudayaan yang sama, namun sejak Pembagian Korea pada tahun 1945, masing - masing negara mengembangkan bentuk kebudayaan kontemporer yang berlainan bentuk. Secara historis, kebudayaan Korea dipengaruhi oleh RRC, namun Korea mampu mengembangkan identitas budaya yang unik dan berbeda.[56] Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata Korea Selatan aktif dalam mendorong budaya tradisional dalam bentuk modern lewat pembiayaan dan program - program edukasi.[57]

Musik kontemporer, film dan televisi



Hingga tahun 1990an, trot dan ballad adalah musik populer yang mendominasi Korea Selatan. Bergabungnya grup rap Seo Taiji and Boys pada 1992 menandai perubahan besar dalam dunia musik Korea Selatan yang dikenal dengan istilah K-Pop, grup ini mencampurkan elemen genre musik populer seperti rap, rock dan techno ke dalam musik mereka.[58]

Sejak kesuksesan film Shiri pada tahun 1999, Film Korea mulai mendapatkan apresiasi secara internasional. Film lokal mulai mendominasi pasar terutama sejak pemberlakuan kuota yang mewajibkan bioskop untuk menampilkan film - film Korea paling sedikit 73 hari dalam satu tahun.[59]

Demografi



Korea Selatan memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, sekitar 487,7 jiwa/km².[60] Jumlah ini sepuluh kali lebih banyak daripada rata - rata dunia. Kebanyakan penduduk hidup di daerah perkotaan karena migrasi besar - besaran dari pedesaan selama ekspansi ekonomi yang pesat pada tahun 1970, 1980 dan 1990.[61] Pada tahun 2005, Seoul merupakan kota terpadat di Korea Selatan dengan jumlah penduduk lebih dari 9 juta jiwa[62] disusul oleh Busan (3,4 juta jiwa), Incheon (2,4 juta jiwa), Daegu (2,3 juta), Daejeon (1,4 juta), Gwangju (1,4 juta) dan Suwon (1 juta).[62]

Pada tahun 2008, tingkat kelahiran per tahun sebesar 9 kelahiran dari 1.000 orang.angka ini merupakan yang terendah di dunia sedangkan harapan hidup rata - rata sebesar 79,10 tahun[63] yang merupakan tertinggi keempat puluh di dunia.[64]

Agama



Keagamaan Korea Selatan
agama

persen
Atheisme
  
46.5%
Buddha
  
22.8%
Protestan
  
18.3%
Katolik Roma
  
10.9%
Islam
  
0.4%
Agama lain
  
0.4%
Buddha Won
  
0.3%
Konfusianisme
  
0.2%
Cheondoisme
  
0.1%


Hampir sebagian besar rakyat Korea Selatan memilih tidak beragama atau atheisme. Buddha adalah agama yang mempunyai penganut terbesar di Korea Selatan dengan 10.7 juta penduduk. Agama lainnya yang terbesar adalah Kristen Protestan dan Katolik Roma. Gereja Kristen terbesar di Korea Selatan, Yoido Full Gospel Church berlokasi di Seoul. Diperkirakan ada 45.000 warga Muslim Korea dengan 100.000 orang pekerja yang dari luar negeri yang berasal dari negara Muslim.

Olahraga




seorang praktisi taekwondo memperagakan teknik dollyo chagi

Sepak bola, basket, bulu tangkis, dan baseball adalah beberapa olahraga terpopuler di kalangan masyarakat Korea Selatan. Di bidang sepak bola, tim nasional Korea Selatan telah berhasil menembus babak kualifikasi Piala Dunia FIFA selama 8 kali berturut - turut dan merupakan rekor terbanyak di Asia. Baseball merupakan olahraga dengan jumlah spektator yang banyak, para pemilik klub baseball biasanya adalah para chaebol Korea Selatan. Tim baseball Korea Selatan berhasil meraih medali emas di Olimpiade 2008. Bulu tangkis telah menjadi perhatian para masyarakat terutama sejak banyak para pemain Korea Selatan yang menang dalam tingkat internasional.[65]

Taekwondo adalah olahraga asli dari Korea yang berkembang dengan pesat dan menjadi olahraga resmi pada Olimpiade sejak tahun 2000 di Sydney, selain itu Korea juga memiliki beberapa macam olahraga bela diri lainnya seperti taekkyeon, hapkido, tang soo do, kuk sool won, kumdo dan subak.[66]

Selain sukses dengan pengembangan olahraga aslinya, Korea Selatan juga berhasil menjadi tuan rumah berbagai perhelatan acara olahraga akbar. Pada tingkat Asia, Korea Selatan pernah menjadi tuan rumah Asian Games tahun 1986 di Seoul, 2002 di Busan, dan akan kembali menjadi tuan rumah pada 2014 di Incheon.[67] Pada tingkat internasional, Korea Selatan pernah menjadi tuan rumah Olimpiade tahun 1988 di Seoul dan bersama dengan Jepang menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2002.

Prestasi olahraga Korea Selatan terus meningkat. Korea Selatan menempati urutan keempat perolehan medali saat menjadi tuan rumah Olimpiade Seoul 1988, serta menjadi satu-satunya tim Asia yang berhasil menembus babak semifinal pada Piala Dunia FIFA 2002 yang diselenggarakan di Korea Selatan dan Jepang.

Di tahun 2010, Korea Selatan menjadi tuan rumah untuk balap mobil F1 di Yeongnam untuk pertama kalinya.[68]

Lihat pula

Hari libur di Korea Selatan


Hari raya di Korea Selatan terdiri dari tiga jenis hari raya: Hari Perayaan Nasional (국경일, 國慶日), Hari Pengibaran Bendera (국기게양일, 國旗揭揚日), dan Hari Libur Resmi (공휴일, 公休日). Masing-masing jenis hari raya ditetapkan oleh dasar hukum yang berbeda. Semua hari perayaan nasional adalah hari pengibaran bendera.

Sebagian besar hari raya tradisional Korea mengikuti kalender lunar. Pada hari libur resmi, kantor dan bank tutup, namun toko serba ada, rumah makan, museum, istana, dan taman bermain tetap buka.

Hari libur resmi
Tanggal Nama hari libur Nama bahasa Korea Catatan
Alih aksara Hangul Hanja
11 Januari Tahun Baru Sinjeong 신정 新正
Hari pertama bulan pertama kalender lunisolar Tahun Baru Korea Seollal 설날 Biasanya awal Februari, merupakan liburan 3 hari berturut-turut. Semua kantor-kantor tutup. Orang Korea mengambil cuti beberapa hari untuk pulang ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga.[1]
1 Maret Hari Gerakan Kemerdekaan Samil Samil Jeol 3.1절
(삼일절)
三一節 Peringatan Gerakan Samil (Gerakan 1 Maret) tahun 1919 yang memprotes kolonisasi Jepang. Pembacaan deklarasi dilangsungkan dalam upacara khusus di Taman Tapgol, Seoul, tempat deklarasi kemeredekaan pertama kali dibacakan di muka umum.[1]
5 Mei Hari Anak Uh'rininal 어린이날 Sampai tahun 1975 dikenal sebagai Hari Anak Laki-laki. Anak-anak berpakaian bagus, dan diajak orang tua ke taman bermain, kebun binatang, atau bioskop.[1]
Hari 8 bulan 4 kalender lunisolar Ulang Tahun Buddha Bucheonim Osinnal 부처님
오신날
釋迦誕辰日 Biasanya dirayakan akhir Mei, hari raya ini juga disebut Seokka T'anshin-il (석가 탄신일). Perayaan dilangsungkan di berbagai kuil Buddha di seluruh negeri. Lentera-lentera digantung di halaman kuil.[1]
6 Juni Hari Pahlawan Hyeonchung-il 현충일 顯忠日 Hari peringatan prajurit dan warga sipil yang gugur untuk negara. Upacara peringatan dilangsungkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Seoul.[1]
17 Juli Hari Konstitusi Jeheonjeol 제헌절 制憲節 Hari proklamasi konstitusi tahun 1948
15 Agustus Hari Kemerdekaan Gwangbokjeol 광복절 光復節 Hari kemerdekaan dari penjajahan Jepang pada tahun 1945.
Hari 15 bulan 8 kalender lunisolar Chuseok (Hari bulan purnama) Chuseok 추석 秋夕 Liburan 3 hari berturut-turut, biasanya di bulan September. Anggota keluarga berkumpul untuk menghormati arwah leluhur.[1]
3 Oktober Gaecheonjeol (Hari Kelahiran Bangsa) Gaecheonjeol 개천절 開天節 "Festival ketika langit terbuka" (Lihat juga Dangun). Hari peringatan pendirian negara Korea pada 2333 SM oleh Raja Dangun. Upacara diadakan di altar yang berada di puncak Gunung Manisan, Pulau Ganghwa. Altar tersebut menurut legenda dibangun oleh Dangun sebagai ucapan terima kasih kepada ayah dan kakeknya di surga.[1]
25 Desember Hari Natal Seongtanjeol 크리스마스 聖誕節 Juga ditulis sebagai 크리스마스 (Keuriseumaseu)

Hari besar



Referensi


  1. ^ According to Oral Tradition
    Savada, Andrea Matles. South Korea: A Country Study. Area handbook series. Federal Research Division, Library of Congress. Washington, D.C.:1992. p109
  2. ^ "Lokasi".
  3. ^ "Local short name".
  4. ^ "Ancient civilizations". Rom.on.ca. Diakses pada 25 April 2010.
  5. ^ OPM.go.kr
  6. ^ Lee Hyun-hee (2005, pp 45-62)
  7. ^ http://www.upkorea.net/news/photo/5880-2-5623.pdf
  8. ^ a b Korea through the Ages Vol. 1 p113
  9. ^ Korea through the Ages Vol. 1 p104
  10. ^ 국방부 군사편찬연구소, 고려시대 군사 전략 (2006) (The Ministry of National Defense, Military Strategies in Goryeo)
  11. ^ Kim Jeong Su(1990), <<한글의 역사와 미래>>(History and Future of Hangul) ISBN 10 - 8930107230
  12. ^ Hawley, Samuel: The Imjin War. Japan's Sixteenth-Century Invasion of Korea and Attempt to Conquer China, The Royal Asiatic Society, Korea Branch, Seoul 2005, ISBN 89-954424-2-5, p.195f.
  13. ^ Murder of Empress Myeongseong.
  14. ^ Forced Annexation
  15. ^ "Japanese Instrument of Surrender". educationworld.net. Diakses pada 28 Desember 2006.
  16. ^ "Perang Korea 1950".
  17. ^ "Tipe pemerintahan". CIA World Factbook.
  18. ^ "The Economist Intelligence Unit's Index of Democracy 2008" (PDF). Diakses pada Kesalahan: waktu tidak valid.
  19. ^ "Pembagian kekuasaan".
  20. ^ [\https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/fields/2077.html?countryName=Korea,%20South&countryCode=ks&regionCode=eas&#ks "Lembaga Eksekutif Korea Selatan"]. CIA.
  21. ^ "Cabang eksekutif". CIA.
  22. ^ The estimated area rises steadily from year to year, possibly due to land reclamation. "행정구역(구시군)별 국토적". Korea Statistical Information Service. Diakses pada 27 Maret 2006.
  23. ^ [1], CIA World Factbook, diakses pada 2010-12-10
  24. ^ a b Geography of Korea, Asia Info Organization
  25. ^ [2], Teritorial Korea,Organisasi Info Korea
  26. ^ "Titik Tertinggi & Terendah".
  27. ^ Korea Selatan sebagai Macan Asia Timur
  28. ^ The World Factbook, diakses 30 Maret 2007, Urutan Peringkat - Ekspor.
  29. ^ The World Factbook, diakses 19 September 2000, Urutan Peringkat - Impor.
  30. ^ http://www.nationmaster.com/graph/eco_gdp-economy-gdp&date=1962
  31. ^ http://www.nationmaster.com/graph/eco_gdp-economy-gdp&date=1989.
  32. ^ http://www.enotes.com/topic/Miracle_on_the_Han_River
  33. ^ a b c d e f "Date ekonomi World Factbook". CIA.
  34. ^ [3]
  35. ^ [4]
  36. ^ http://www.heritage.org/index/ranking
  37. ^ "OLED TV – displays – screens – gadgets: About OLED" (dalam bahasa Inggris).
  38. ^ "시가총액상위 - Daum 증권" (dalam bahasa Korea).
  39. ^ "시세정보 - Daum 증권" (dalam bahasa Korea).
  40. ^ a b "Airport Service Excellence Awards". ACI website. 27 Februari 2008. Diakses pada 24 September 2008.
  41. ^ a b Airports Council International. Aci.aero. Retrieved on 2010-11-28.
  42. ^ "Company Info / Overview". Korean Air. Diakses pada 19 Mei 2005.
  43. ^ Special Report: [Business Opportunities] R&D. Ministry of Knowledge Economy, 2007-09-03. Retrieved 2009-07-15
  44. ^ "Robot parks, a world first". JoongAng Daily, 2009-02-13. Retrieved 2009-07-15.
  45. ^ Android Has Human-Like Skin and Expressions, Live Science, 2006-05-08. Retrieved 2009-07-15.
  46. ^ [5]Tanggal bergabung Republic of Korea
  47. ^ NYtimes.com, published 1992-08-24
  48. ^ "Bilateral Relations: Korea", European Commission.
  49. ^ "Seoul and Tokyo hold island talks". BBC News. 20 April 2006. Diakses pada 10 Maret 2009.
  50. ^ "Liancourt Rocks / Takeshima / Dokdo / Tokto", Globalsecurity
  51. ^ "South Korea's Armed Forces, CSIS (Page 24)", 25 Juli 2006.
  52. ^ GlobalSecurity on Military of Republic of Korea, Globalsecurity.org
  53. ^ http://www.pisa.oecd.org/
  54. ^ [6]
  55. ^ http://www.education-blog.net/2008/08/28/south-korea-now-open-for-foreign-students/
  56. ^ John K. Fairbank, Edwin O. Reischauer and Albert M. Craig (1978). East Asia: Tradition & Transformation. Houghton Mifflin Company, Boston. ISBN 039525812X.
  57. ^ "Associated Organisations". MCT Website. Diarsipkan dari yang asli pada 24 Desember 2005. Diakses pada 11 April 2006. See also "Mission and Goal". Korea Cultural Administration website. Diakses pada 11 April 2006.
  58. ^ Seo Taiji, KBS World
  59. ^ S.Korea's Screen Quota Hinders Market Access, KBS World, 2010-07-16.
  60. ^ Berdasarkan data The World Factbook (2010) 48.636.068 habitantes dan 99.720 km² de superficie, total 487,7 hab/km²
  61. ^ "Populasi Korea Selatan".
  62. ^ a b "kota terpadat di Korea Selatan". city population.de.
  63. ^ Peter J. Smith. "South Korea: Lowest Birthrate in the World" (dalam bahasa Inggris). Life Site News.com.
  64. ^ CIA. "Country Comparison :: Life expectancy at birth".
  65. ^ kehidupan olahraga di Korea Selatan
  66. ^ (Korea) Korea Martial Arts Federation
  67. ^ Asian Games Incheon 2014
  68. ^ Formula 1 Official Site

Bacaan lanjutan



CERPEN : Ular Randu Alas

Tersembunyi kisah rahasia pada sebatang pohon randu alas tua. Tak seorang pun berani menebangnya. Seabad sudah pohon randu alas itu berumur. Aku menduga, pohon randu alas yang menjulang kokoh di tepi jalan pertigaan menuju perumahan tempat tinggalku berumur lebih dari seabad.
Sejak aku kecil, pohon randu alas itu telah tumbuh sebesar sekarang—empat rentangan tangan orang dewasa—rindang dan menggugurkan daun-daun kering kekuningan pada musim kemarau. Umurku kini enam puluh dua, sudah beberapa tahun pensiun, menjadi saksi pohon randu alas yang berdiri tegak, rimbun dedaunan, dan dianggap angker.
Seekor ular bersarang di rongga lapuk pangkal pohon randu alas yang menganga serupa gua. Bila diintip ke dalam gelap rongga pangkal pohon itu, tampak sepasang mata ular berkilau mengancam. Sepasang mata seekor ular yang siap mematukku, suatu saat bila aku terlena.
Sebatang pohon jambu biji tumbuh liar di bawah pohon randu alas—mungkin sisa hutan jambu yang ditebang habis untuk lahan perumahan. Dari dua cabang pohon jambu terjulur beberapa ranting dan bergelantungan buah-buah yang selalu ranum. Tak jauh dari pohon jambu, tumbuh pohon melati liar, bermekaran bunga-bunga putih mungil. Tercium lembut wangi tiap pagi.
Untuk cucu kesayanganku, Aini, kupetik buah-buah jambu ranum kesukaannya dan bunga-bunga melati yang dijadikannya sebagai mainan. Menjelang siang ia pulang sekolah taman kanak-kanak bersama teman-temannya, beramai-ramai makan buah jambu, dan bermain-main kembang-kembang melati yang kupetik.
Berada di bawah pohon randu alas, aku kadang merasa cemas. Dalam mimpiku enam tahun silam, seorang nenek keriput dengan tongkat kepala ular, mengutukku, ”Kau tega melukai ular penunggu randu alas. Tiba waktunya nanti, pada umurmu yang ke-62, ular itu akan mematukmu!”
***
Gairah untuk memetiki buah-buah jambu yang ranum, dengan merenggut ujung ranting dan menjulurkan tangan meraih buah-buah itu, menggetarkan tubuhku. Kutukan perempuan tua penunggu randu alas itu, yang datang dalam mimpi, sudah saatnya terjadi. Aku mesti menjemput takdirku. Bila memang harus mati dipatuk ular, biarlah aku merasakan sakit patukan ular yang dulu pernah kucederai, dan melata ke arah rongga pangkal randu alas, dengan ceceran darah di rerumputan.
Aku tak sengaja melukai ular itu. Cangkul yang kuayunkan untuk membersihkan rerumputan di bawah pohon randu alas dan meratakan tanah tak kusadari merobek daging seekor ular. Ular itu melata ke arah rongga pangkal pohon randu alas. Aku merasa tak bersalah. Kuteruskan mengayunkan cangkul, membersihkan rerumputan dan meratakan tanah.
Pohon jambu biji kubiarkan tumbuh di bawah pohon randu alas. Ada pula pohon melati yang masih kecil, yang tak kucabut. Kubiarkan tumbuh liar. Kuratakan tanah dan terus kutimbuni agar lebih tinggi. Akan kuundang tukang batu untuk mendirikan sebuah kios sederhana. Di kios itu aku akan menjual barang-barang kelontong dan kebutuhan sehari-hari.
Malam harinya aku bermimpi, nenek bertongkat kepala ular, menatapku dengan murka. Wajahnya bengis, sepasang matanya mengancam. Ia mengutukku. Ular penunggu pohon randu itu bakal mematukku pada ulang tahun ke-62. Begitu tegas kutukan nenek bertongkat kepala ular, seperti hadir dalam kehidupan sehari-hari dan bukan terjadi dalam mimpi.
Mimpi burukku tak menghentikan pembuatan kios kelontong. Tiap pagi aku membuka kios, melayani pembeli, hingga malam larut. Mula-mula jarang orang berbelanja ke kiosku. Tapi lama-kelamaan, berdatangan pula orang-orang berbelanja.
”Kau tak takut akan digigit ular penunggu pohon randu?” tanya Lik Man, lelaki setengah baya, pencari rumput untuk kambing-kambingnya. Ia dulu menjual ladang jambu miliknya, yang didirikan perumahan, dan memilih pindah ke daerah perkampungan, dengan tanah yang luas. Di rumah baru, ia masih bisa bercocok tanam dan memelihara kambing. Ia paling sering mencari rumput di bawah pohon randu alas. Di sini rerumputan tumbuh subur, dan dalam waktu sebentar, ia sudah memanggul segulung rumput, yang diikat erat, diletakkan di bawah pohon jambu. Ia meneguk kopi di warung Yu Warso dan membeli rokok di kiosku. Di warung Yu Warso itu ia biasa ngobrol dan baru pulang menjelang siang.
”Kau selalu merumput di bawah pohon randu. Tak takut digigit ular?”
”Sejak muda dulu aku selalu mencari rumput di sini. Tak pernah kulihat ular itu. Yang selalu kutemukan cuma kulit ular, menjalar di rerumputan. Kau pernah melihat ular itu?”
”Aku pernah melukainya dengan cangkulku.”
”Hati-hatilah!” Lik Man meninggalkanku.
***
Tak seorang pun melihat Lik Man. Menjelang siang ia membawa sabit ke bawah pohon randu dengan rokok mengepul di bibirnya. Matahari sudah bergeser dari puncak pohon randu alas. Biasanya Lik Man meninggalkan bawah pohon randu alas, memanggul gulungan rumputnya pulang, setelah minum kopi dan makan pisang goreng di warung Yu Warso. Anak lelaki Lik Man mulai mencari ayahnya. Ia sempat menyapaku, sebelum menyusup ke dalam semak-semak.
Dari bawah pohon randu alas, kudengar ia memekik, ”Ayah meninggal!”
Kudapati Lik Man terbujur kaku, masih menggenggam sabit. Mulutnya berbusa. Kaki kirinya melepuh biru kehitaman darah beku. Terlihat dua titik bekas patukan ular. Darah ular berceceran di rerumputan, lenyap di rongga keropos pangkal pohon randu alas. Sabit Lik Man, secara tak sengaja, mungkin telah melukai ular penunggu pohon randu alas dan ular itu menggigitnya.
***
Melintasi pertokoan senja hari, di trotoar, sepulang dari belanja untuk keperluan kios kelontong, kulewati seorang penjual obat oles yang menggelar tikar, dengan ular dalam kotak kayu. Sama sekali orang lalu lalang tak menghiraukannya. Ia menawarkan obat oles untuk menyembuhkan penyakit kulit. Tak seorang pun datang mendekat. Lelaki setengah baya bersorban putih, berjenggot, masih duduk dengan tenang. Aku sempat memandanginya, sambil menanti bus kota di halte.
Lelaki setengah baya bersorban itu melambai ke arahku.
”Kemarilah!” panggilnya.
Aku bimbang untuk mendekat. Sepasang matanya seperti menuntunku untuk menghampiri dan berjongkok di depannya. Dia memintaku untuk menjulurkan tangan kiri dan membuka telapak tangan. Ia baca garis telapak tangan itu.
”Kau perlu kekebalan,” kata lelaki penjual obat bersorban, sambil mengelus jenggotnya. ”Suatu hari kelak kau akan dipatuk ular.”
Teringat ular penunggu randu alas yang pernah kulukai, kutukan perempuan tua bertongkat ular dalam mimpi, dan kematian Lik Man yang dipatuk ular, aku merasakan degup dada yang mengencang.
”Kau dapat memberiku kekebalan?”
”Kalau kau yakin, insya Allah, tubuhmu akan kebal dipatuk ular,” lelaki setengah baya berjenggot itu meyakinkan. Aku mengangguk. Meminum segelas air putih darinya. Pergelangan kaki kananku diolesi minyak dan seekor ular dari dalam kotak kayu dikeluarkannya. Aku memejamkan mata. Begitu cepat terasa patukan dua gigi ular pada pergelangan kaki.
”Kau akan berkunang-kunang sebentar. Kaki kananmu mengejang, sulit digerakkan. Tak lama. Kau akan segera pulih seperti sediakala.”
***
Berjingkat-jingkat aku meraih buah-buah jambu. Masih kuingat kutukan perempuan tua bertongkat kepala ular. Pada hari kelahiranku yang ke-62, seekor ular akan mematukku. Aku sama sekali tak takut dengan patukan ular itu. Mungkin aku akan benar-benar dipatuk ular, sebagaimana enam tahun silam perempuan tua berambut memutih dengan mata murka itu mengutukiku dalam mimpi. Aku tak perlu ragu memetiki buah jambu yang ranum. Juga nanti akan kupetiki kembang-kembang melati untuk Aini.
Kalaupun seekor ular mematukku, tukang obat di trotoar pertokoan itu telah memberiku kekebalan. Gigitan ular tukang obat yang tak kukenal itu memang menyebabkan pandanganku berkunang-kunang, kaki kanan mengejang kaku. Darah seperti membeku. Tapi tak lama. Pandanganku kembali terang dan kaki kananku segera dapat kugerakkan. Kuberikan selembar uang dari dompetku, yang diterimanya dengan ucapan terima kasih berkali-kali. Tiap kali aku berbelanja untuk keperluan kios kelontongku, selalu kucari dia. Tapi tempat ia menggelar tikar, obat-obat oles, dan kotak ular selalu kosong.
Harus kusambut hari ini, pagi ke-62 umurku, saat kutukan perempuan tua dalam mimpi itu akan terjadi. Kalau benar seekor ular itu mematukku pagi ini, mungkin seperti kata lelaki setengah baya bersorban penjual obat, aku akan kebal. Tubuhku hanya merasakan sengatan patukan ular itu, mata berkunang-kunang, bagian yang dipatuk akan terasa mengejang. Tak lama. Setelah itu aku akan leluasa bergerak seperti sediakala. Tapi kalau penjual obat itu berdusta, ketika ular penunggu pohon randu alas mematukku, tubuhku akan segera kaku seperti Lik Man.
Buah-buah jambu yang ranum terus kupetiki. Teringat aku pada cucuku, Aini, yang tinggal serumah denganku, akan pulang sekolah, aku bergairah memetiki buah-buah jambu. Ia suka membagi-bagikan buah jambu pada teman-temannya dan bahagia dipuji sebagai putri yang baik hati.
Aku meraih ujung ranting pohon jambu, meloncat, agar dapat menarik ranting itu dan memetik beberapa buah jambu ranum. Kakiku menginjak seekor ular. Ular itu menggeliat, mematuk kaki kananku. Aku tak sempat memekik. Terjatuh. Merasakan patukan ular yang menyengat. Mataku berkunang-kunang. Kaki kananku mengejang.
Mungkin aku akan segera bangkit dengan tubuh segar bugar seperti sediakala, tanpa luka dan rasa sakit. Mungkin tubuhku akan segera terbujur kaku, tergeletak di rerumputan, di bawah pohon randu alas, pohon jambu, dan bunga melati. Tapi, aneh, dalam pandanganku yang berkunang-kunang, kulihat Lik Man sedang merumput. Wajahnya bahagia sekali. Di seberangnya kulihat lelaki setengah baya bersorban penjual obat. Wajahnya tenang, penuh keyakinan, dan sepasang matanya teduh.
Dari jauh, samar-samar kudengar suara Aini memanggil-manggilku dengan suara yang riang, penuh harapan, ”Kakek, mana buah-buah jambuku? Petikkan juga bunga-bunga melati untukku!”

CERPEN : Hujan yang Indah

Jika Anda orang yang menyukai hujan, datanglah ke kotaku. Di sini dapat Anda saksikan hujan yang indah bak lukisan.
Aku tidak bohong. Di sini hujan turun seperti gadis kecil yang pemalu, tetapi selalu riang. Kadang kala kubayangkan hujan mengetuk-ngetuk bumi dengan kaki-kaki gadis kecil yang menari kian kemari. Aspal, trotoar, dan pepohonan basah tapi ceria turut menari bersama.
Di sini hujan sering turun dan, uniknya, hampir selalu hanya berupa gerimis. Sesekali saja terjadi hujan lebat dengan angin ribut atau geledek membentak-bentak di angkasa.
Apabila hujan turun, aku paling suka duduk dekat jendela sambil melipat tangan di meja. Kulayangkan pandangan ke luar sambil menyimak ketukan air tempias ke kaca. Dari jendela tampak dinding-dinding dan atap bangunan kuno di seberang jalan. Dalam kondisi kering, tembok dan atapnya tampak kelabu terang, tapi setelah dibasahi hujan, warnanya menggelap dan terlihat misterius, seakan-akan di dalam gedung itu ada makhluk-makhluk gaib yang bergentayangan. Pada bagian tertentu meruap juga nuansa merah bata yang asli, meski tidak mencolok. Bangunan itu ada sebelum aku dilahirkan dan seingat aku bentuknya tidak pernah diubah oleh pemiliknya.
Selain itu, yang kuintai manakala hujan tengah mempersembahkan baktinya kepada bumi adalah angkasa kelabu yang menggigil dan memuncratkan seluruh embun yang menggenangi permukaannya kepada bentang alam yang telentang pasrah. Pernah aku membayangkan langit sebagai dada perempuan yang berdegup dengan suasana batin seorang ibu yang prihatin dan bersedih. Dada yang subur. Dada yang telanjang, tetapi sensualitasnya terselubung oleh uap samar yang menenangkan. Kemudian dada itu berpeluh. Peluh yang menyembul melalui pori-pori dan melapisi kulitnya yang halus dengan genangan embun bening menebal. Ketika angin menepuk dada itu, genangan itu luruh menjadi hujan.
Aku pernah mengungkapkan gambaran tersebut kepada seorang teman, tetapi dia mencibir seraya berujar, ”Bukankah seharusnya dada memuncratkan air susu? Mengapa keringat? Lalu di mana keindahannya? Ada-ada saja kamu ini. Air susu adalah metafora bagi cinta seorang ibu. Mestinya kamu tahu, sengawur apa pun imajinasi, sepatutnya diperkuat logika—mungkin dalam ketidakmungkinannya.”
”Haruskah begitu?”
Dia tertawa, kemudian dengan gaya merenung yang dibuat-buat dia bersabda, ”Kamu ini naif sekali. Bergaya penyair, tapi tidak paham perkara remeh seperti itu.”
”Aku tidak bermaksud bergaya penyair.”
Temanku tersenyum dan kupikir itu senyuman orang jahat. Agar tidak menambah kesan jahat pada dirinya, aku tidak pernah lagi mengungkapkan apa pun yang melintas di benakku sebagai apa yang dia istilahkan ”buah imajinasi”. Anehnya, setelah hijrah ke luar negeri, dia lebih sering bertanya soal hujan kepadaku lewat telepon, pesan singkat, dan surat elektronik. Aku hanya menjawab sekenanya. Kemudian dia memprotes.
Protes itu dia lontarkan dalam obrolan via internet. Saat itu matahari tengah memancarkan cahayanya dengan murah hati. Akhir pekan yang cerah. Terlalu cerah malah.
”Dulu kamu sering berkomentar tentang hujan. Kau bilang indahlah, romantislah, begini, begitu. Sekarang kenapa kering ungkapanmu? Apakah sudah jelek hujan di sana sekarang?”
Uh, sinis sekali.
”Hujannya tetap seperti dulu.”
”Lalu?”
”Aku tidak bisa ceritakan. Kalau kamu mau tahu, pulanglah dan saksikan sendiri. Tak bisa kamu mencerap keindahan hanya lewat komentar orang lain.”
”Wah, hebatnya!”
”Salah sendiri, bertanya soal hujan pada saat matahari bersinar terang.”
”Oh, di sana cerah sekarang?”
”Ya.”
”Di sini beku. Kami dikepung salju seminggu penuh!”
Lambat laun kami semakin jarang berkomunikasi. Mungkin dia sibuk. Aku sendiri sibuk, ditambah kehadiran perempuan yang menjadi ibu bagi putra-putriku. Selanjutnya anak-anak mempersembahkan cucu-cucu untuk kami. Kawanku yang kadang-kadang menyebalkan itu tidak pernah mudik dan tanpa kabar lagi.
Kebiasaanku menikmati hujan tidak pernah berubah, meski tidak sesering dulu. Mungkin intensitas penikmatannya pun tidak sedalam dulu, entahlah. Sesekali aku masih keluar rumah ketika gerimis mulai turun, yang menimbulkan kejengkelan anak bungsuku dan menantu yang tinggal serumah dengan kami. Istriku sendiri tidak banyak cakap. Kukira dia sudah tahu tidak ada gunanya melarang aku menikmati hujan.
”Kalau Papa sakit bagaimana? Sudah tua masih suka keluyuran dalam hujan. Ini payung dan jas hujan.”
Kecerewetannya sungguh menjengkelkan.
”Apakah dulu aku pernah melarang kamu dan kakak-kakakmu berhujan-hujan?” begitulah aku pernah mengomel. Menantuku mundur dengan bijaksana, tapi putriku pantang menyerah.
”Iya. Malah dulu Papa cerewet sekali.”
”Apa iya?”
”Iya.”
Aku mengalah. Kuterima jas hujan parasut yang panjang selutut itu.
”Ini payungnya, Pa.”
”Tidak usah.”
Sempat kudengar gerutu putriku ketika aku membuka pintu dan melangkah, menyentuh tirai gerimis, ”Dasar keras kepala.”
***
Itu dulu, sebelum datang tahun-tahun yang ganjil ini.
Pada awal tahun masih kukagumi Januari dan Februari sebagaimana biasa, tapi bulan demi bulan berlalu dan genangan air mulai terbentuk di sudut-sudut kota, bantaran sungai, bahkan hingga di tengah kota. Kendaraan-kendaraan seperti berenang akibat banjir. Kini hujan bukan lagi sekadar gerimis yang menggemaskan bagai kanak-kanak, melainkan berupa curahan air terjun disertai petir dan angin ribut.
Sepanjang hari langit gelap dan mendung selalu mengurung berupa gumpalan-gumpalan hitam yang menakutkan. Aku tidak lagi berminat keluar rumah apabila hujan mulai tercurah. Yang kulakukan hanya duduk mematung di sisi jendela sambil membayangkan masa lalu yang tidak akan kembali. Walaupun demikian, aku tidak ingin berubah pikiran hanya karena perubahan iklim. Aku ingin mengenang hujan yang indah dalam benakku.
Tiba-tiba, petir membahana. Jantungku nyaris copot. Lantas atap berderak diterpa angin.
”Pakai mantel ini, Kek,” bisik cucuku dengan lembut. Senyumnya teduh. Sebentar lagi dia akan menikah. Alangkah cepat waktu berlalu. Kurasakan kantong mataku memberat.
Ketika mantel yang tebal dan lembut menyentuh kulitku, barulah aku menyadari bahwa aku menggigil kedinginan sejak tadi.

CERPEN : Lukisan Kematian

Di kampung kami ada seorang pelukis yang unik. Dia hanya akan melukis wajah manusia yang telah sampai pada ajalnya. Orang kampung kami menyebut lukisannya: lukisan kematian. Ada juga yang menyebutnya: lukisan keabadian. Ada juga yang menyebutnya: lukisan kenangan. Sedang aku lebih suka menyebutnya: lukisan misteri kematian.
Dua hari yang lalu, seorang perempuan setengah baya memintanya membuat lukisan seorang lelaki yang sudah cukup tua, berkumis tebal, mengenakan kopiah warna hitam dengan ornamen tambahan yang mengantarnya menemui ajalnya. Ornamen itu berupa sebuah mobil yang ringsek sebab tertabrak truk tronton. Mobil itu berdiri gagah di samping lelaki yang tampak sedang tersenyum kecut. Senyum yang seolah-olah telah memisahkannya dengan perempuan setengah baya itu: istrinya.
Pada hari ketiga setelah lusa, perempuan setengah baya itu datang kembali, mengambil lukisan yang dipesannya. Dia gembira sekali sebab di dalam lukisan itu, suaminya tampak gagah seperti masa mudanya, laksana seorang laksmana. Berdiri di puncak kariernya menjadi manajer perusahaan di samping mobil dinasnya.
”Lukisan ini akan menjadi catatan sejarah bagi kehidupan dan juga akhir kejadian kematian suamiku,” katanya kepada pelukis itu. Pelukis itu tersenyum.
”Lho, tapi Mas, kok…….!” Perempuan itu kaget. Tiba-tiba seperti sadar dengan apa yang dilihatnya pada lukisan. ”Ini kok, mobilnya utuh?” Pelukis itu hanya diam. ”Saya kan memesan lukisan suami saya setelah kejadian. Sebab kecelakaan itu, mobilnya ringsek dan suamiku mati. Lukisan wajah suami saya yang gagah itu, benar, tetapi, ornamen mobilnya? Harusnya sudah ringsek.”
Dengan tenang, pelukis itu menjawab. ”Mudah kok, Bu. Kalau Ibu mau melihat ornamen mobil yang ringsek, pandang saja mobil itu, ringsek. Imajinasikan pikiran Ibu akan peristiwa kecelakaan itu, maka, mobil itu akan kelihatan ringsek sendiri. Tentunya, ya, dalam kacamata kenangan.”
”Apa cukup semudah itu?”
”Coba saja! Sekarang, enyahlah agak jauh dari lukisan! Lalu, pikiran Ibu harus difokuskan pada peristiwa kecelakaan itu.”
Setelah menjauh dari lukisan, perempuan itu tersenyum. Ornamen mobil itu dilihatnya ringsek betulan. Sebab imajinasinya yang tajam, atau keunikan lukisan? Entahlah. Yang pasti, pelukis itu telah membuatnya tersenyum, tanda puas.
Dua hari berikutnya, seorang lelaki datang padanya untuk mengambil lukisan pesanannya. Di dalam lukisan itu, ada seorang kakek yang berdiri gagah di sawah. Sebuah cangkul dipegangnya. Akunya, sawah dan cangkul adalah tempat terakhir yang dikunjungi kakek itu. Dan, kakek yang dipanggilnya ayah itu, menemui ajalnya di kamar, di kamar mandi, sepulangnya dari sawah.
”Parmin, Ayah mau mandi, lantas istirahat. Itu nanti, sawah diteruskan nyangkulnya, ya,” pintanya.
Eh, setelah itu, lama tak keluar-keluar, pintu didobraknya. Hatinya tersentak. Ditemuinya, Ayahnya telah tiada.
”Kenapa kamu mau mengabadikan gambar ayahmu?” tanya si pelukis.
”Ayahku adalah pahlawan dalam hidupku.”
”Ibumu?”
”Sejak kecil, aku tak punya ibu. Jadi, ibu hanya pahlawan dalam angan-angan,” katanya, lalu pergi.
Beberapa hari berikutnya, semakin sibuk ia melayani pesanannya. Bagaimana tidak? Lukisannya sangat mengagumkan. Lukisannya berkesan seperti nyata. Lukisannya menjadi kenangan yang terabadikan. Apalagi, ongkos pembuatan lukisan itu terbilang tidak mahal. Ia hanya ingin membagi apa yang bisa ia kerjakan, kepada sesamanya. Baginya, ya, dengan melukis. Ia tidak memasang tarif untuk sebuah lukisan yang telah diselesaikannya. Baginya melukis adalah sarana penyaluran imajinasi yang bercampur baur dengan carut-marut kehidupan. Seakan-akan ia mengerti apa yang diinginkan pemesannya. Meskipun begitu, justru, tak jarang, ia menerima uang lebih dari pemesannya. Mereka tampak merasakan kepuasan tersendiri atas garapannya yang mengagumkan.
Sebagai teman sebayanya, sering pula aku bermain ke rumahnya. Aku pun mengagumi kecanggihannya dalam melukis. Lukisan yang digarapnya berlatar belakang kematian. Memang, setiap kali ia melukis, lukisannya seperti nyata dan seolah-olah menyimpan sejarah yang bermakna.
Suatu waktu, aku berkesempatan untuk bertanya kepadanya. Lukisannya tampak hidup dan bugar. Mengagumkan. Seakan-akan, wajah-wajah kematian yang dilukisnya, hidup kembali. Ada ruh di dalamnya, menggetarkan jiwa setiap orang yang melihatnya. Maka, tak khayal kalau hanya dalam waktu beberapa bulan, reputasinya sebagai pelukis handal, mencuat sampai ke luar daerah. Bahkan, sampai lingkup antarkota. Namanya banyak dikenal massa.
Sarjo. Begitu, aku memanggilnya. Dulu, kami satu kelas, ketika belajar di bangku sekolah dasar. Menginjak lanjutan, ia merantau. Ketika aku mulai kuliah, ia pulang. Sejak itu, ia mulai berkecimpung dalam dunia lukis. Kabarnya, dari perantauan itu, ia belajar melukis. Ketika aku dilantik sarjana, orang tua satu-satunya; ayahnya, meninggal. Ia mengabadikan wajah ayahnya dalam lukisan. Ibunya, hanyalah angan-angan yang tak pernah bisa terungkapkan keberadaannya.
”Kenapa kamu tidak melukis keindahan alam saja?”
”Aku tak suka bersaingan dengan Tuhan. Biarkan orang itu melihat kenyataan saja. Alam yang diciptakan Tuhan itu lebih indah dan mampu mendekatkan hati seseorang kepada-Nya.”
”Tapi, kamu malah melukis wajah-wajah kematian?”
”Kenapa, emang?” Aku diam.
”Kuabadikan ayah dalam lukisan. Aku selalu mengingatnya, bagaimana laut itu membekukan darah dalam tubuhnya.”
Aku diam saja. Terharu.
”Kamu tahu?” tanyanya. Aku menggelengkan kepala. ”Lukisan itu adalah pusara ayah. Aku selalu berziarah padanya. Aku kirimkan surat Al Fatihah kepadanya. Lukisan itu, pengganti pusara ayah di laut.”
Hampir, air mataku copot dan meleleh dari kebekuannya.
”Lalu bagaimana dengan ibumu?”
”Aku tak pernah mengerti bagaimana wajah ibu. Ayah hanya pernah bercerita, kalau aku ini anak jadah. Dan ayah tak pernah menjelaskan apa maksud ’anak jadah’ itu. Akhirnya, kukatakan kalau ibuku tak pernah ada. Ibuku sendiri adalah ayah. Dia yang mengasuhku sejak kecil. Maka, di dalam lukisan itu, ada ibuku juga. Ibu yang tampak hanya dari wilayah imaji rasa. Ketika aku mendoakan ayah, artinya aku pun mendoakan ibu.”
Sebab tak tahan, airmataku menetes. Sembab. Aku bersyukur, aku masih punya ibu. Masih punya ayah.
”Mengapa kamu menangis?” tanyanya heran. Aku diam saja. Lidahku kelu.
”Sudahlah. Aku telah terbiasa dengan itu. Makanya, aku suka melukis wajah-wajah kematian. Alasannya mudah saja. Aku ingin lukisan-lukisanku, menjadi pusara juga bagi mereka, mengingatkan mereka akan misteri kematian. Dan mereka akan banyak berziarah atau sekadar mengirimkan surat Al Fatihah, serta doa-doa kepada sosok di balik lukisan.”
”Mulia sekali niatmu.”
”Jangan memuji. Ini tak lebih indah dari mengorek sampah.”
”Maksudmu?”
”Tak ada nilainya.| Aku tersenyum. Dia pun tersenyum.
”Banyak sekali pesananmu sekarang?”
”Seperti yang kau lihat.”
”Boleh, aku melihatnya?” Dia mengangguk.
Lukisan-lukisan itu kulihat satu-satu. Lukisan pertama, seorang lelaki muda sedang duduk di taman, bersama seorang perempuan sebayanya. Lelaki itu memegang sebilah pisau. Dari kejauhan, aku melihat misteri kejadian kematian lelaki. Ditusukkannya pisau itu tepat ke jantungnya sendiri. Perempuan itu berbicara samar-samar. Bahkan, dia membiarkan kematian si lelaki. Pikirku, itu kisah ’cinta gila’, di mana perempuannya sama gilanya dengan lelaki, lelaki yang rela mati hanya untuk pembuktian cintanya.
Lukisan kedua, lukisan ketiga, lalu lukisan keempat, kulihat sebentar saja. Hanya dari dekat. Sebab, tiba-tiba aku merasa muak dengan kisah sejarah di balik gambar dalam lukisan. Pikirku, segala misteri dalam lukisan itu, semuanya memiriskan. Aku terlalu takut dan trauma.
Mendapati lukisan lain, aku tercengang. Lukisan itu dibungkus kain putih serupa kafan. Wajah dalam lukisan itu sendiri, seperti, aku telah mengenalnya. Warna kulitnya saja yang tampak terlalu putih, seolah-olah tak ada merah darah di dalamnya. Serupa jenazah. Kutatap lekat lukisan itu. Seperti sketsa lukisan yang pernah kulihat sebelumnya. Hanya ada wajahnya dan wajah laut. Aku ingat, lukisan itu seperti sebuah lukisan yang dianggap pusara olehnya. Lukisan ayahnya. Lukisan yang berlatar belakang laut. Apa artinya?
Kulihat sekeliling ruangan, dia telah tiada. Kupanggil dia, tak ada suara. Aku keluar ruangan. Keluar dari rumahnya. Berjalan menuju laut yang jaraknya terbilang dekat. Sepuluh menit aku sampai. Tak ada apa-apa. Laut sepi. Aku pulang ke rumah.
Aku menjadi khawatir sekali kepadanya. Jangan-jangan? Banyak tanda tanya berloncat-loncatan dalam pikiran.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, kudengar ada berita menggemparkan dari laut. Aku berlarian menuju laut. Ada kerumunan orang di laut. Aku masuk ke dalamnya. Ada mayat. Ada mayat. Kulitnya putih sekali. Kulihat wajahnya. Aku tak sempat berpikir, semua akan berakhir di sini. Wajahnya? Oh, tidak…..!
Aku ingat sebuah lukisan. Lukisan itu seperti lukisan ayahnya. Lukisan itu pusara dirinya. Kuambil lukisan itu dan kupajang di kamar. Seperti yang pernah dikatakannya, ia sering mengirimkan surat Al Fatihah kepada ayahnya. Maka, aku pun demikian, akan menirunya.